JADI GURU, SITU OKE?

Jadi Guru Situ Oke

 

Ketika kita masih TK atau SD, guru memulai pelajaran dengan bertanya:

“Kalau sudah besar, mau jadi apa?”

“Dokter!”

“Polisi!”

“Tentara!”

“Guru!”

Iya, wajar saja sih, itu profesi yang dilihat di keseharian. Apalagi guru. Begitu mengenal buku, seragam, dan teman-teman main, yang selalu lalu lalang di sekitar kita adalah guru. Tapi dengan bertambahnya usia, ingatan anak-anak yang bercita-cita jadi guru tadi itu mulai hilang. Apalagi ketika melihat guru-guru SMA-nya yang masih pakai motor Supra butut, tinggal di kontrakan, pakai baju safari ala zaman para nabi, atau rok yang warnanya sudah enggak jelas. Mau nuntut hak? Turun ke jalan untuk demo? Dibilang mengabaikan anak bangsa. Para siswa jadi ngga bisa belajar. Mau mogok? Upah engga dibayar. Jadilah guru menjadi “pilihan terakhir” dalam cita-cita. Tidak jarang mendengar omongan “Kalau gak tau mau ngapain lagi, jadi guru ajalah.” Nah, wajar kan aku bilang kalau jangan jadi guru. Coba kupaparkan sedikit ala-ala Sherlock Holmes gitu.

  • Kerja full-time, gaji part-time.

Sampai sekarang Eda nggak habis pikir. Ada guru yang mengajar 20 jam mata pelajaran per-minggu, dan per-jamnya adalah Rp.35.000. Maka, logikanya dia dapat Rp.700.000/minggu, kan? Tapi ternyata itu untuk sebulan, coy! Kalau begitu, ngapain capek-capek bilang Rp.35.000/jam? Harusnya, Rp.700.000 tadi dibagi 80 jam (20 jam x 4 minggu). Nah, coba kalian hitung! Sudah tahulah kalian berapa, kan? Yup! Rp.700.000/80 jam = Rp.8.750 perak! Mak! Berarti, guru yang sudah teriak-teriak sampai sobek hernia-nya dan kumat jantungnya karena ngurusi setan-setan kecil semacam kalian ini cuma dihargai 8ribuan perak per-sekali berdiri. Masih mending anak band amatiran macam Pshycotic Villager, yang datang manggung, teriak nyanyi empat atau lima lagu, habis itu pulang. Masih bisa sebat dua batang rokok, habis itu tidur nyenyak. Kalau guru? Datang terlalu pagi, jam makan siang terlalu cepat, pulang terlalu larut. Di rumah, masih banyak PR: bikin planning mengajar, periksa ujian anak-anak, dan isi raport satu kelas. Kalaupun cepat pulang, masih harus ngurus warung, sawah, atau jadi sales produk setan MLM. Kan nggak mungkin ngarep 8 ribu tadi ya, kan?

  • Repotnya sertifikasi, uji kompetensi, dan lain-lain.

Mulailah istilah sertifikasi guru, PLPG, uji kompetensi, dan ujian-ujian lainnya. Seru, kan? Ujian ini itu. Pelatihan ini itu. Susun makalah ini itu. Print ini itu. Fotokopi ini itu. Pakai uang siapa? Uang guru itulah! Mana pula si fulan mau kasih sumbangan. Ibu-bapak guru yang awalnya duduk manis tenang baca koran sambil minum kopi, mulailah sibuk ke rental komputer tiap hari. Atau gangguin anak setan yang lagi main facebook, atau keponakan yang melek komputer dan internet. Sampai malam pun, sering terlihat ibu-bapak paruh baya mengetik pakai dua jari dan kacamata yang buram karena harus mengumpul RPP besok pagi. Bagus, kan? Baguslah! Saking bagusnya, sampai ada beberapa yang kumat diabetes atau jantungnya karena kelelahan. Bahkan ada satu guru yang meninggal karena kecapekan.

  • Dituntut jadi guru kreatif, tapi waktu jadi mahasiswa dilarang kreatif!

Mungkin kalian sering lihat mahasiswa calon guru yang pakai kemeja rapi, celana goyang, rambut pendek kayak Prabowo, dan tas yang penuh kertas. Bukan mahasiswanya yang gak mau kreatif, tapi dianjurkan untuk punya pakem seperti itu. Kalaupun gondrong, dia harus ikat rambut kalau ketemu dekan. Kalau pakai kaos atau jins, siap-siaplah tidak diladeni dosen. Pas bikin makalah atau skripsi yang agak revolusioner, agak diluar kebiasaan senior, dibilang nyeleneh, nggak “guru” banget. Pas ikut demo turun ke jalan, dibilang nggak mencerminkan sikap guru. Anarkis katanya, kayak Budiman Sudjatmiko. Hmmm… coba orang itu ingat ya kan, kayak mana bentuk perjuangan guru-guru masa dulu. Jadi, agak mengherankan kalau pas lulus dan jadi guru diminta untuk kreatif. Seolah-olah kemampuan kreatifitas itu jatuh dari langit. Itu dilatih, coy! Dan nggak sebentar!

  • Pas lulus, jangan puas dulu! Masih ada SM3T, pendidikan profesi, dan sebagainya.

Yah, bagi anak-anak mami yang enggak mau jauh-jauh dari orangtua, selepas wisuda jangan langsung loncat dulu. Masih ada program- program yang mengharuskan si calon guru praktik setahun mengajar di daerah terpencil di seluruh kepulauan Indonesia. Pas sampai di sana, kita harus mengurus diri sendiri dan kadang-kadang gaji datang terlambat dan direkap per tiga bulan. Kena malaria, tifus, diusir warga, dicela karena engak bisa ngajar; itu cuma cerita-cerita lucu mereka. Yang pasti, masih banyak tahap yang harus dilalui calon guru masa kini. Longggg journey!

  • Di sinetron maupun kehidupan nyata mana pun, guru adalah objek.

Di layar kaca, layar lebar, maupun layar tancap, guru sering jadi objek hinaan. Tempat duduk dikasi permen karet, disiram air, dicitrakan sebagai manusia galak dan berpikir picik, bahkan ada yang bikin karakter guru bloon. Di kehidupan nyata? Tangannya guru seolah-olah terikat kencang. Sedikit saja menegur si siswa, langsung orangtua siswa marah-marah dan lapor ke Kak Seto. Bahkan ada guru di kota Medan yang jelas-jelas ditubruk lari oleh seorang siswa, sampai berobat terus menerus dan cacat, sampai sekarang nggak tahu gimana kabarnya. Siapa yang salah? Tetap si gurulah. Jadi, enggak heran kalau makin banyak orangtua (menganggap sekolah, mereka yang bayar) yang memperlakukan guru sebagai “pengasuh” bagi anak-anak mereka.

  • Guru adalah ladang amal, bukan ladang uang.

“Pahlawan tanpa tanda jasa” adalah doktrin masa kegelapan yang masih diamini sampai sekarang. Padahal itu dimanfaatkan untuk kepentingan pihak-pihak yang mau memeras keringat para guru. Supaya, sewaktu guru dapat upah rendah, dia langsung hapus dada dan berbisik “tanpa tanda jasa! Ini ladang amal!”. Engga hanya pemilik yayasan, pemerintah pun ikut-ikutan tutup mata (entah memang buta). Upah buruh yang diperjuangkan dari kapan hari sampai sekarang saja masih dikebiri, apalagi bidang pendidikan. Untuk mengeluarkan SK Guru Honor Provinsi saja, gubernur makan waktu sampai janggut Karl Marx rontok. Jadi, kalau mau bikin sekolah/kampus dan punya untung besar, cukup rekrut guru-guru yang mencari ladang amal. Amanlah kau itu!

Begitulah, gaes! Setelah cakap Eda ini kalian baca, mudah-mudahan kalian sadar kalau lagu Umar Bakri bukan cuma lirik hasil maboknya Iwan Fals. Umar Bakri masih ada. Malah makin banyak. Cuma beda sampul luarnya saja.

Nah, bagi yang mau jadi guru, pikir-pikir dululah! Cakap Eda ini cuma cerita preambule saja. Masalah guru itu ber-BAB-BAB ngalah-ngalahin jumlah episode Tukang Bubur Naik Haji. So, mau jadi guru? Situ oke?

Oia, bagi yang sudah telanjur, Eda ingin mengucapkan: selamat Hari Guru Nasional wahai para pahlawan (harusnya diberi) tanda jasa!

*Ilustrasi oleh Leo Sihombing
(Tulisan ini telah dimuat di DegilZine.com pada 26 November 2017 yang lalu)

 

Datang – Pergi

Bunyi kipas berdiri terus menerus bergesekan

Air kolam ikan hias gemericik menyaingi hujan

Wajah – wajah penghias hati berkejaran

Kalau memang kalian pergi, kenapa dulu sempat aku ditawan?

dsc07422

Benarkah Alumni PM itu “Sumo”? Susah Move On?

img-20160619-wa0053a

Tim Pengajar Muda Fakfak Angkatan 10 Tiba di Bandara Soekarno-Hatta dari Bandara Torea Fakfak (19/06/2016)

“Ko Idul Adha dimanakah?”

“Di Bomberay o. Hehe”

“Eh..ko belom move on kah?

“…”

 

Begitulah percakapan saya bulan lalu dengan teman saya yang tinggal di Fakfak, tempat saya bekerja sebagai Pengajar Muda selama satu tahun. Bomberay adalah nama kecamatan tempat penempatan saya. Beberapa bulan menjelang kepulangan dari daerah penempatan, petuah – petuah dari Pengajar Muda sebelumnya kebanyakan tentang : Bersiaplah untuk Move On! Awalnya, saya berpikir apakah benar sesulit itu. Ketika saya menginjakkan kaki di tanah Fakfak provinsi Papua Barat untuk pertama kalinya, saya sempat menduga akan menemukan kesulitan beradaptasi dan mengenang kehidupan saya sebelumnya, yaitu di kota Medan. Ternyata, hal itu hanya terjadi di awal – awal minggu saja. Saya menikmati kesendirian, perbedaan budaya, dan isolasi peradaban perkampungan di tempat saya bekerja. Terlebih lagi, penyambutan warga Fakfak yang begitu hangat dan ramah membuat saya semakin betah dan tidak mengurung diri menangisi keadaan saya. Alam yang begitu kaya dan indah pun seperti bonus yang tak kunjung habisnya. Kehidupan selama kurang lebih 365 hari tersebut tak terasa lewat begitu saja. Pastilah para alumni Pengajar Muda lainnya juga memahami perasaan saya.

Tetapi, semua agenda pasti ada tenggat waktunya. Kontrak yang ditandatangani dengan jelas menyebutkan bahwa Pengajar Muda bersedia untuk dipulangkan setelah menjalani masa kerjanya selama satu tahun. Tibalah masa kepulangan itu. Awalnya, semua terlihat dan terasa baik – baik saja. Euforia oleh – oleh yang tak hanya berupa gelang, tas, kaos khas Fakfak beserta dokumentasi dan video selama berada disana, tetapi juga cerita kenangan dengan rekan satu tim penempatan dan keluarga serta teman – teman warga Fakfak masih terus meramaikan proses kepulangan. Saya dan rekan satu tim beserta rekan – rekan Pengajar Muda dikumpulkan di pusat ibukota Jakarta untuk menjalani masa Orientasi Pasca Penempatan (OPP) yang diselenggarakan oleh kantor Indonesia Mengajar. Di kegiatan tersebut, kami diharapkan mampu berorientasi dengan kehidupan setelah penugasan, menentukan visi misi kehidupan, dan yang pasti mampu menerima kenyataan yang cenderung berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Seperti guyonan beberapa rekan, “Setahun lalu itu bagai mimpi. Nah…waktunya sekarang kita bangun kembali dan back to reality”.

Namun, apalah arti kegiatan yang tiga hari tersebut dibandingkan dengan kehidupan penuh kesan yang berjumlah ratusan hari. Sepulang dari kegiatan OPP, saya langsung kembali ke kampung halaman saya di kota Padangsidimpuan untuk melepas rindu dengan orangtua dan keluarga. Semua masih bernafas Fakfak. Cerita Fakfak, logat Fakfak, makanan dan kue – kue khas Fakfak, pantai Fakfak, dan orang – orang Fakfak masih menjadi perbincangan utama. Semua kenangan masih terngiang – ngiang jelas. Bahkan, tak jarang saya merasa terasing di rumah dan menyendiri sesekali di kamar dan menonton video tentang Fakfak. Tak ingin lama – lama merasa “terasing” di kampung halaman sendiri, saya langsung berangkat travelling ke negara Nepal. Rencana ini sudah setahun lalu saya dan teman saya rencanakan. Judulnya “Merayakan Selesainya Tugas Selama Setahun”. Tapi, judul tinggal judul. Dibalik gelak tawa dan riangnya liburan, saya masih menyimpan rasa rindu mendalam. Sepulang dari Nepal, akhirnya saya dihadapkan dengan kenyataan.

Saya diburu pertanyaan oleh sekitar “jadi, habis ini mau ngapain?”, “mau kerja apa setelah ini?”, “mau nganggur sampai kapan?”. Walau pertanyaan – pertanyaan itu terasa mengintimidasi, saya tidak khawatir akan hal itu. Yang lebih saya kahawatirkan adalah pertanyaan – pertanyaan yang muncul di kepala saya sendiri. Apakah saya mampu berjalan terus ke depan? Benarkah berjalan ke depan tak boleh melihat ke belakang? Apakah berjalan ke depan bisa sambil melihat ke belakang?

Berhari – hari dan berbulan – bulan saya mencari jawaban. Sampai detik saya menulis artikel ini pun, saya masih mencari. Akhirnya, saya formulasikan pertanyaan sederhana: Who am I now?

Dengan pertanyaan itu, saya berharap saya bisa mendapatkan jawaban demi jawaban.

 

  1. Definisikan arti Who Am I Now

Dengan proses mencari jawaban pertanyaan di atas, saya mendefinisikan saya sekarang adalah manusia yang sudah memiliki beberapa pengalaman hidup yang baru yang menjadi nilai – nilai kehidupan saya sekarang. Kehidupan yang serba terbatas, sederhana, dan dipenuhi orang – orang baik menempa saya menjadi manusia yang lebih peka terhadap sekitar. Ibarat kata orangtua jaman dahulu, apalah arti kaki panjang kita pikiran tetap sempit. Kemudian, kombinasikan dengan pemahaman siapa diri kita sebelum penempatan. Artinya, jangan sampai lupa siapa diri kita dulunya. Maka, dengan nilai – nilai tersebut, saya menjadi lebih mudah mencari jenis pekerjaan ataupun kesibukan saya sekarang ini.

 

  1. Cari kesibukan!

Setelah mendefinisikan diri sendiri, maka carilah kesibukan. Kesibukan disini tidaklah melulu dalam bentuk pekerjaan formal yang bergaji dan kontrak. Kesibukan bisa saja maknanya berkegiatan, berorganisasi, dan bersosialisasi dengan habitat yang sekarang ini. Walau sudah memiliki pengalaman “luar biasa”, tidak perlu juga untuk terus terjebak di masa itu dan terus mengumbar –ngumbarnya di komunitas yang sekarang ini. Ingatlah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Tidak semua komunitas bisa menanggapi cerita pengalaman – pengalaman “luar biasa” kita itu dengan positif. Menurut saya, ada baiknya bukan jualan kecap, alias omong doank. Tapi, tunjukkanlah sikap dan contoh perilaku dan perbuatan sebijak – bijaknya yang menunjukkan bahwa perjalanan selama setahun itu tidaklah sia – sia.

 

  1. Move On, Bukan Berarti Melupakan

Karena rasa takut dianggap tidak bisa berjalan ke depan, tidak juga kita harus melupakan kehidupan selama disana. Tetaplah berkomunikasi dengan masyarakat disana yang telah dianggap sebagai keluarga kandung, baik keluarga asuh, warga, maupun teman – teman sepermainan. Walau sesibuk bagaimanapun, sisihkanlah waktu untuk menjawab telepon, dan membalas pesan singkat sms dari mereka. Terkadang secuil sms jauh lebih berharga dari apapun.

 

  1. Saling Mendukung dengan Rekan se-Angkatan

Walau sudah sibuk dengan kegiatan maupun agenda masing – masing, tidak ada salahnya untuk menanyakan kabar rekan se-angkatan, khusunya sepenempatan. Walau terputus oleh jarak geografi, mereka pernah menjadi keluarga terdekat selama setahun. Tempat berbagi, bertengkar, rekan sepercucian, masak memasak, bahkan teman sesama penderita Malaria.

 

  1. Anggap Sebagai Fase Hidup

Memang benar adanya kehidupan selama satu tahun itu sangatlah berkesan dan tidak terlupakan. Namun ada baiknya, anggaplah itu sebagai salah satu fase kehidupan seperti fase – fase kehidupan lainnya, seperti kelahiran, masuk sekolah pertama kalinya, hari pertama kuliah, pertama pacaran, pertama kali diselingkuhi, dan yang lainnya. Dengan begitu, kita bisa lebih ringan melangkah ke depan.

 

Jujur, saya menulis artikel ini sesungguhnya sedang berbicara dengan diri saya sendiri. Saya berharap rekan – rekan alumni yang baru saja kembali ke kehidupannya sekarang bisa mendapat insight dari tulisan ini. dan bagi rekan – rekan yang sebenarnya sudah bisa move on, selamat! Saya bangga kepada kalian. Mudah – mudahan tulisan ini juga dapat memberikan insight tersendiri bagi teman – teman tersayang. Doakan juga saya agar tidak susah move on, tapi tidak melupakan.

Don’t Wait for Somebody Else to Complete You!

CAMERA

This photo was taken in Urat Village, Fakfak, Papua Barat

Masa kecilku tak berbeda dengan masa kecil anak perempuan lainnya, yaitu dicekoki dengan tontonan animasi seperti Cinderella, Putri Tidur, dan cerita – cerita perempuan lainnya yang diselamatkan oleh pangeran. Bahkan di usia dewasaku sekarang ini, hal jodoh dan nikah menikah masih saja menjadi bola es yang menggelinding sadis. Yaitu dengan maraknya film, buku, sosial media, blog, bahkan sinetron yang mempertontonkan dan mendramatisir biduk rumah tangga alias pernikahan. Menurutku, hal itu wajar saja. Seperti yang sering didendangkan Cholil Mahmud, vokalis grup Efek Rumah Kaca, di lagu mereka yang berjudul “Cinta Melulu” dengan lirik begini “atas nama pasar semuanya begitu klise…atas nama pasar semuanya begitu banal”, semua itu pasti ada alasannya : Kepentingan. Ya, kepentingan bisnis. Tapi, bisnis takkan berasap kalau tidak fenomena pangsa pasar (alias masyarakat) yang berapi. Para influencer bahkan salah seorang pemimpin daerah ikut – ikutan membakar provokasi dengan menyulut kegalauan para anak muda atau para lajang untuk segera menikah. Mereka yang notabene memiliki followers yang cukup banyak dimana warga Indonesia selalu berprestasi dalam hal pemakaian sosial media pastinya memberikan dampak yang besar dalam pola pikir pembacanya. Jadi, tidak heran kalau istilah jomblo dan single jadi bulan – bulanan di berbagai media. Belum lagi kalau hal – hal yang bersifat pasangan, pacaran, pernikahan, buku nikah, bulan madu, travelling berdua, bahkan anak baru lahir jadi postingan favorit dan mengundang beribu jempol like.

Apakah aku pesimis? Jomblo ngenes? Egois? Gak laku? Tunggu dulu!

Sesugguhnya, aku pernah di posisi mereka. Kalau boleh aku simpulkan, berdasarkan pengalaman sendiri dan beberapa teman, masa ter-galau para anak muda itu di usia 20an. Masa dimana manusia mencari jati diri, masa membangun definisi hidup, dan masa aktif fungsi biologis manusia. Animal instinct-nya manusia sedang onon nya pada saat itu. Belum lagi karena sifat manusia yaitu makhluk sosial yang sialnya jadi sering alasan untuk “berkompetisi” apapun dengan manusia lain yang mendorong manusia untuk melirik kiri kanan untuk membanding-bandingkan dan menganggap hidupnya tak lebih baik dari hidup orang lain. Sibuk stalking sosial media teman yang baru menikah, komentari calon suaminya, menertawai bayinya yang mirip dengan suaminya yang tidak cukup rupawan tapi jutawan, ikut kasihan lihat mantannya yang ditinggal nikah hanya karena masih belum cukup tabungan untuk mahar, dan kekepoan – kekepoan lainnya.

Kalau memang di usia 20an itu adalah masa sedang labil – labilnya, pencarian jati diri, pembentukan definisi hidup, dan masa perkembangan biologis, apakah sedikit ironi jika di usia yang tak mantap itu justru kita mengambil keputusan besar dan sangat berpengaruh bukan hanya masa depan tetapi juga ukiran sejarah kehidupan kita yang bisa saja disyukuri tapi juga disesali?

Memang benar adanya tiap manusia itu berbeda. Ada yang usia biologisnya tergolong muda, tetapi mentalnya sudah cukup dewasa. Tidak sedikit kakak kelas, rekan, bahkan adik juniorku yang memutuskan untuk menikah di usia yang cukup muda. Ada yang baru lulus SMA, sambil kuliah, bahkan ada yang menikah selepas lulus SMP. Wow! Banyak motivasi di balik itu semua. Ada yang katanya ingin tidak berlama – lama pacaran, ada yang ingin keluar dari keluarganya yang broken home, dan ada yang didesak keluarganya. Nasib mereka juga beragam. Ada yang perekonomiannya cukup, ada yang kedua pasangan tersebut cukup matang, tetapi tak sedikit yang meratapi nasibnya yang tinggal di kontrakan lusuh dan memakaian pakaian bayinya yang baru lahir dengan pakaian bekas. Semua memiliki masa – masa hidupnya yang tidak seragam. Dengan melihat semua fenomena itu membuatku semakin berpikir, apa arti pernikahan sebenarnya?

Tau gak sih, aku juga pernah membeli salah satu buku karangan penulis yang menikah muda ketika dia sembari kuliah. Aku beli buku itu karena “terprovokasi” teman kuliah yang memang ngebet nikah muda. Si penulis berkata bahwa kehidupannya semakin berkah ketika ia menikah. Dia cukup bertanggung jawab, dan sang istri juga cukup sabar. Dan ketika itu yang memang aku sedang menjalin hubungan dekat dengan teman SMAku dulu, aku pun melihat wajahnya dan berpikir apa dia cukup bertanggung jawab, dewasa, dan sudah mampu berumahtangga? Aku pun berkaca, apa aku sudah cukup berani untuk berumahtangga, sabar, dan dewasa untuk bersuami? Di masa itu, apa aku sanggup tinggal di kontrakan apa adanya, membagi waktu kuliah yang penuh jadwal tak beraturan, dosen yang super sibuk dan menuntut, dan ajakan teman – teman untuk nongkrong di kantin sampai magrib? Di masa itu, apa aku sanggup menunggu suami yang pulang kuliah tapi gak langsung pulang karena masih nongkrong ama genk motornya dan begadang nonton pertandingan Liga Champions? Memang sih, kalau dipikir – pikir manisnya saja, pernikahan kami itu bakalan indah seperti FTV. Menikah selagi fisik muda bakalan tidak melelahkan. Setiap malam serasa malam pertama. Gandengan tangan bahkan ciumanpun gak perlu sembunyi – sembunyi dan hatipun tenang. Hamil di masa muda pun tubuh masih kuat dan tak perlu sakit pinggang yang berlebihan. Mertua dan orangtua juga masih sehat wal afiat dan mampu berlari – lari bercengkrama dengan cucunya. tetapi, semua itu privilege condition yang hanya melibatkan orang lain. Kondisi indah yang tampak sempurna di mata orang lain. Ibaratnya, demi menyenangkan orang lain. Mereka tidak tahu, ketika perut membuncit berisikan si jabang bayi dan susah tidur terlentang sepanjang malam, sang suami lagi nongkrong dengan teman – teman kuliahnya yang perempuan. Single, seger, dan berani lagi! Atau, mereka tidak tahu, ketika sang suami tidak henti – hentinya kerja bahkan bekerja sampai tiga jenis pekerjaan yang berbeda sampai larut malam, sang istri lagi asik – asiknya nongkrong di kafe dengan teman – teman kuliahnya sambil minum kopi import harga 50 ribu dan belanja lipstik 200 ribu.

Lamunanku pun buyar ketika sms mamaku masuk “Inang, udah gimana skripsimu? Nanti lebaran haji, pulang kau ya, nang. Mama masak dendeng balado kesukaanmu. Kalian saja yang makan. Mama sekarang kolesterolnya tinggi, ada penyempitan saraf juga. Jadi, gak boleh makan daging”.

Jleb! Dua kenyataan itu menampar mukaku. Sangat. Kenyataan bahwa skripsi sajapun aku tak bisa tanggung jawabkan, dan kenyataan bahwa ibuku yang tak lagi super sehat dan kuat itu sekarang masih membutuhkan aku. Anak apa aku ini? Hanya demi seks dan hasrat yang dilegalkan, kompetisi sosial yang ingin dimenangkan, dan romansa yang ingin dipertontonkan, akupun abaikan kebahagiaan ibuku yang tak pernah perhitungan denganku selama ini? Demi agar tidak terlihat jomblo, kesepian, dan egois, aku tepis cita – citaku selama ini?

Tidak henti – hentinya aku bersyukur kepada Tuhan dengan dianugerahi ibu seperti mamaku ini. Tak pernah sekalipun ia mendesak anak – anaknya yang notabene perempuan semua untuk menikah. Bahkan, beliau pernah berucap, “ Seandainyapun ada diantara kalian yang memang tidak berejeki menikah, tidak usah takut. Aku akan terus ada buat kalian. Apapun status kalian, kalian tetap anak –anakku”. Asli, kalimat itu terus terpartri di pikiran dan hatiku sampai sekarang ini. Bukannya hal itu membuat aku menjadi anak malas atau jadi antipati terhadap pernikahan. Tetapi, kalimat itulah yang membuat aku semakin kuat dan yakin terhadap diriku sendiri.

Setiap hari Minggu pagi ketika masih SMA, kebiasaanku adalah bersantai di depan TV dan menonton acara TV favoritku, Oprah Winfrey Show. Di suatu episode yang membahas tentang hubungan antar manusia, dia pernah berkata , “You should never look for someone to COMPLETE you. A relationship consists of two WHOLE individuals. You are responsible for your life. So, don’t wait for somebody else to fix you, to save you or complete you. Jerry MaGuire was just a movie. No one completes you”. Artinya, kira – kira begini. “Kamu tak seharusnya mencari seseorang untuk MELENGKAPImu. Sebuah hubungan terdiri dari dua insan manusia secara KESELURUHAN. Kamu bertanggung jawab atas kehidupanmu sendiri. Jadi, jangan tunggu seseorang untuk memperbaikimu, untuk menyelamatkanmu, atau melengkapimu. Film Jerry MaGuire hanyalah sebuah film. Tak satupun yang melengkapimu”. Ide – ide pikiran itulah yang membentuk diriku yang sekarang. Aku bahagia. Ada dan tiadanya pria. Yang kata sosial yang mampu melengkapiku, memperbaikiku, dan menyelamatkanku (emang aku motor bekas ya?). Tapi, beneran lho (haha…), ada kok beberapa pria yang hampir di kehidupanku. Mereka cukup baik, menyenangkan, dan mewarnai kehidupanku. Tetapi, ketika ada nilai – nilai kehidupan yang tidak bisa dikompromikan dan bagian – bagian dari diriku yang lenyap dan tenggelam, akupun (walau pedih dan pahit karena melibatkan perasaan) memilih diriku sendiri. Karena, satu hal yang pasti di dunia ini. Kau tak akan dicintai oleh sesiapapun jika kau tak mencintai dirimu sendiri. Love yourself. Yeah, f**k Justin Bieber! Of course I love myself. Because, that’s how to live in this world, baby Huey! Haha.

Bagaimana caranya mencintai diri sendiri? Tak beda ketika mencintai orang lain, kau juga harus kenal dirimu sendiri baru kau bisa mencintai dirimu sendiri.

Aku juga cukup senang ketika film – film anak – anak yang berbentuk animasi produksi perfilman besar di dunia seperti Frozen dan Brave yang tidak hanya menceritakan bahwa kehidupan percintaan melulu tentang romansa pria dan wanita, tetapi juga mempertontonkan sosok perempuan kuat yang berani mengambil keputusan untuk dirinya sendiri. Aku tetap optimis kok anak – anak yang menonton semoga bukan hanya menduplikasi gaun biru es nya saja dan lagunya yang terus – menerus didendangkan dimanapun berada.

Di usiaku yang menuju 30 ini (ya, aku jujur dan aku bangga), aku semakin berpikir bahwa wajar saja kalau pikiran – pikiran galau itu hadir. Aku bahkan tidak menepis, kalau pikiran – pikiran itu masih kadang muncul. Tetapi, hal – hal pembelajaran yang aku dapat selama ini, aku semakin bersyukur bahwa aku masih diberi kesempatan untuk merasakan pengalaman – pengalaman unik itu. Experience is a best teacher, right?

Maka, menikahlah ketika kau sudah matang dan dewasa dalam pikiran. Mencintailah ketika kau sudah mampu mencintai dirimu sendiri. Berkomitmenlah ketika pasanganmu yang mampu mengakui kehadiranmu. Produksilah bayi – bayi ketika kau sudah tak mengutamakan lagi egoismu. Tak usah menikah juga tidak apa – apa. Jodohmu tak hadirpun bukanlah kiamat. Itu keputusanmu. Tak usah ikut berkompetisi karena masa depanmu seyogyanya adalah milik dirimu sendiri.

Hidupmu bukanlah lomba lari. Bukan milik sosial media yang penuh editan, rekayasa, dan pencitraan, bukan milik kumpulan arisan dan kondangan, atau bukan milik acara reuni yang hanya beberapa kali dalam dekade dan berlangsung hanya beberapa jam itu.